Koleksi Artikel Pilihan

Koleksi artikel pilihan

Rabu, 19 Maret 2014

Seri Wisata Nabire 3 : Si Mulut Lebar

Berdasarkan peraturan yang ditetapkan WWF, penyelaman maksimal dilakukan selama satu jam. Dalam satu kali penyelaman, maksimal enam penyelam yang turun. Terakhir, tidak dibolehkan menyentuh hiu paus dan berupaya menjaga jarak aman.
Sejak dua tahun yang lalu, World Wildlife Fund (WWF) bersama Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih telah memantau keberadaan hiu sebesar 18-20 meter ini. Kecuali di Laut Mediterania, hiu paus lazim ditemui di perairan tropis dan subtropis yang hangat dengan suhu 18-30 derajat Celsius.

Selain di tempat ini, hiu paus juga bisa ditemui di Indonesia bagian lainnya. Sebut saja perairan Sabang, Situbondo. Bali, Nusa Tenggam, Alor, Flores, Sulawesi Utara, dan Papua. Di Probolinggo, Jawa Timur hiu paus muncul musiman antara Januari sampai Maret. 

Berbeda dengan ukurannya yang jumbo, makanan hiu paus sangat kecil, seperti plankton dan ikan puri. Karena ikan puri atau yang lebih tenar dengan nama ikan teri juga tangkapan nelayan untuk dijual, dahulu hiu paus dimusuhi warga Kwatisore. Sikap bermusuhan ini membuat hiu paus kerap diusir dengan senjata tajam jika kebetulan tersangkut jaring nelayan. Tapi, setelah WWF bergabung, nelayan justru menyiapkan waktu untuk memberi hiu paus makanan berupa ikan puri.

Sebagai golongan water feeder, hiu paus makan dengan cara membuka mulut selebar-lebamya agar air bisa masuk. Air laut pun tersedot berikut yang ada di dalamnya, termasuk plankton dan ikan puri. Kemudian, air akan dikeluarkan kembali melalui insang. Begitu seterusnya hingga hiu paus merasa kenyang.

Tampaknya, hiu paus yang kami temui kelewat lapar. Berkali-kali kami sajikan ikan puri. setiap kali pula ia
menyambutnya dengan semangat. Kami putuskan bahwa hewan ini memang sulit kenyang. Sebaiknya, memang bekali diri dengan kemampuan menyelam sebelum ke tempat ini. Dengan badan sebesar itu,hiu paus benar-benar penguasa lautan. Dia bergerak ke sana kemari. Penyelamlah yang harus waspada mana kala insting mengatakan hiu paus mendekat. Bukan lantaran takut ditelan hidup-hidup, umumnya hewan yang dilepaskan bebas di alam punya proteksi diri alami.Tangan seorang teman luka semacam melepuh karena tak bisa menahan keinginan untuk menyentuh hiu paus.

Kami menyelam sekitar 30 menit. Berdasarkan peraturan yang ditetapkan WWF, penyelaman maksimal dilakukan selama satu jam. Dalam satu kali penyelaman, maksimal enam penyelam yang turun. Terakhir. tidak dibolehkan menyentuh hiu paus dan berupaya menjaga jarak aman. Seumur hidup, mungkin hiu paus ini menjadi satu-satunya hantu yang bakal bikin kangen.

Selain hiu paus, Desa Kwatisore juga menawarkan pengalaman menginap di bibir pantai. Pengunjung bisa memilih satu di antara dua rumah yang dibangun warga secara urunan. Tarilnya sebesar Rp 5 juta per hari per kepala. Angka ini sudah termasuk penjemputan dan pemulangan ke bandara, sewa peralatan selam,dan makan tiga kali sehari.

Selain dua rumah utama, ada satu rumah pohon yang cukup menggoda untuk didiami. Sayangnya. kami tidak bisa masuk rumah itu lantaran sedang ada wisatawan jang menginap di sana. Menurut Mathias, kebanyakan yang menyewa rumah pohon adalah turis mancanegara. Mereka senang sekali bisa memancing malam-malam dari atas pohon. Tali pancing dilempar dari atas dan langsung menuju laut.

Namun,kami tidak bermalam di Kwatisore. Langit yang menunjukkan tanda-tanda akan kedatangan badai membuat kami bergegas kembali ke Nabire. Rencananya, kami harus kembali ke Jakarta esok hari. Cuaca di Kwatisore memang ekstrem beberapa bulan ini.

Oleh : Meiliani Fauziah
Republika, 21 Januari 2014

Postingan ini  terdiri dari 4 seri dari tulisan berjudul  "Berjumpa 'Hantu' di Nabire'"
 Gurano Babintang

 Buah Banci dan Akomodasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

No spam, please...