Koleksi Artikel Pilihan

Koleksi artikel pilihan

Jumat, 08 Agustus 2014

Pesona Lembah Harau


Awan kelabu tebal menggantung, Kota Bukittinggi diselimuti mendung. Tak lama, gerimis pun turun tanpa diundang. Bersamaan dengan itu, perjalanan menuju Lembah Harau dimulai. Berangkat menggunakan kendaraan jasa travel, menembus rintik hujan, menempuh jarak sejauh 47 km. Medan jalan yang dilalui terkadang berkelok, menanjak dan menurun. Berkat sopir lokal yang berpengalaman, mobil dapat meluncur mulus tanpa kendala.
Oleh : Katerina

Menjelang kota Payakumbuh, lalu lintas terbilang sepi. Hanya satu dan dua kendaraan pribadi yang melintas.
Sedangkan kendaraan umum, hampir tak terlihat. Waktu tempuh dari Bukittinggi hingga Payakumbuh sekitar 2 jam. Selama waktu tersebut, keelokan panorama alam Ranah Minang tersaji sepanjang perjalanan. Sawah luas terbentang, hutan lebat menghijau, juga bebukitan yang berbaris sambung menyambung hingga jauh. Pemandangan itu terus tersuguh, bahkan hingga memasuki kawasan wisata Lembah Harau.

Setelah 2,5 jam perjalanan, tibalah di sebuah pos. Seorang petugas menghampiri, menyerahkan karcis restribusi sebagai tanda masuk Lembah Harau. Tarifnya Rp5.000 per orang. Harga yang sangat murah untuk sebuah pengalaman menyaksikan salah satu objek wisata alam paling terkenal di wilayah Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat.

Ketika mobil mulai melaju memasuki kawasan, rasa takjub itu langsung menghinggapi. Pemandangan alam tak biasa, seperti hamparan sawah diapit deretan tebing yang menjulang mencapai ketinggian 100 hingga 500 meter ada di depan mata.

Batuan di tebing-tebing itu, konon diyakini para ahli berasal dari jenis batuan karst bawah laut yang sangat unik dan eskotis. Tampilan granitnya tampak merona dengan semburat warna kemerahan dan kekuningan.
Reliefnya juga memesona, menampakan guratan-guratan hitam berpadu warna krem dengan lapisan-lapisan penyusun yang diperkirakan telah berusia puluhan juta tahun. Memandangnya, seolah membawa kita ke
dalam hutan purba ala film Jurassic Park.

Suaka Margasatwa
Tebing-tebing terjal di Lembah Harau memiliki kecuraman yang mencapai 90 derajat dengan ketinggian mencapai 200 meter. Inilah tantangan yang mengundang hasrat para pendaki. Tebing impian! Pantaslah kiranya muncul ungkapan dari kalangan pemanjat tebing, bahwa seorang pemanjat tebing profesional belum dikatakan profesional jika belum menaklukkan tebing di Lembah Harau. Bahkan, tak berlebihan jika kemudian para climber dunia menyamakan Lembah Harau dengan lokasi climbing terbesar di Yosemite National Park, di Sierra Nevada California. Menurut informasi, terdapat sekitar 300 titik yang siap di panjat di Lembah Harau ini.

Luas wilayah Lembah Harau sekitar 270 hektar. Didominasi tebing-tebing tinggi dengan hutan tropis alami yang lebat. Memiliki topografi daratan bergelombang dan berbukit. Bukit-bukit itu antara lain Bukit Air Putih, Bukit Jambu, Bukit Singkarak, dan Bukit Tarantang.

Tanggal 10 Januari 1993, Lembah Harau ditetapkan sebagai cagar alam dan suaka margasatwa. Salah satu hewan khas yang hidup di lembah ini adalah kera ekor panjang. Hewan ini termasuk spesies langka dan merupakan hewan endemik Sumatera. Di atas pohon-pohon yang tumbuh di sekitar warung-warung yang berjejer di dekat objek wisata air terjun, kera-kera itu mudah ditemukan. Mereka asyik bergelantungan, tak peduli dengan kehadiran para wisatawan. Terkadang kera-kera itu begitu ribut, dan menjadi sangat liar. Lembah Harau juga memiliki berbagai spesies tanaman hutan hujan tropis dataran tinggi, seperti anggrek bulan, anggrek kantung, pakis monyet, dan kantung semar.
Semuanya merupakan tumbuhan asli kawasan Lembah Harau. Jika ingin melihat pakis monyet (Cibotium barometz) nan seksi, mampir saja ke warung yang terletak dekat objek wisata Air terjun Aie Luluih. Di sana, satu atau dua pakis monyet dijajakan untuk buah tangan. Keunikan pakis monyet bisa terlihat dari bentuk pohonnya yang pendek, memiliki rambut lebat, tebal dan berwarna pirang. Di ujung batang, daun mudanya melengkung mirip udang.

Lembah Echo
Selain memiliki pemandangan bukit-bukit yang indah, Lembah Harau juga memiliki objek wisata air terjun (dalam bahasa Minang disebut sarasah) yang memesona. Air terjun itu antara lain Sarasah Aka Barayun, Sarasah Aie Luluih, Sarasah Bunta, Sarasah Murni, dan Sarasah Aie Angek.

Penjelajahan di sebelah timur lembah, mengantarkan langkah ke Sarasah Aia Luluih. Sebuah air terjun yang tak terlalu besar tetapi elok dipandang. Airnya meluncur dari puncak tebing, mengalir di antara hijaunya tetumbuhan yang menempel di dinding tebing, lalu tumpah ke kolam alami yang asri. Di kolam itu, orang-orang ada yang mandi, ada pula yang sekadar membasuh wajah, tangan, dan kaki. Konon, menurut kepercayaan masyarakat setempat, jika mandi atau membasuh wajah di air terjun Aia Luluih, airnya dapat mengobati penyakit dan menjadikan wajah cantik serta awet muda.

Tak jauh dari kolam sarasah, ada jenjang (tangga) beton menuju lereng ngarai. Mudah ditapaki tetapi hanya sampai pada ketinggian sekitar 6 meter saja. Selanjutnya, jenjang hanya berupa tanah dan bebatuan, rapat dikelilingi pepohonan. Ada sebuah pondok kecil dengan atap model bagonjong khas Minangkabau. Akar-akar pohon menjuntai di sekitarnya, menjalar pada dinding-dinding cadas. Sementara, dari balik rimbun semak belukar, Air Terjun Aia Luluih terlihat putih menjuntai bagai kelambu. Percikan airnya sampai hingga ke pondok. Sungguh sebuah kenikmatan berada di lembah ini.Menghirup segarnya udara hutan sembari ditemani kicauan burung dan suara-suara tonggeret.

Sajian paling spesial di Lembah Harau adalah Lembah Echo. Lembah Echo, sesuai namanya berarti gema. Di sana, ketika kita berteriak sekeras-kerasnya dari sebuah titik di dasar lembah, maka suara kita akan terpantul, lalu menghasilkan gema (echo) sempurna sebanyak tujuh kali.
Konon, lokasi ini menjadi satu-satunya tempat di dunia yang dapat menghasilkan gema sesempurna itu. Sungguh, Lembah Harau adalah sebuah gejala alam luar biasa yang jarang ditemukan di belahan bumi lainnya. (11)


TIPS

  • Lembah Harau terletak di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Sekitar 138 kilometer dari pusat kota Padang, 47 kilometer dari Kota Bukit tinggi, dan kurang lebih 18 kilometer dari Kota Payakumbuh.
  • Bagi wisatawan dari luar daerah sangat disarankan menyewa kendaraan sebab jarak tempuh yang jauh, disertai dengan minimnya transportasi umum dari Bukittinggi ke Payakumbuh (begitu juga sebaliknya), akan menghambat perjalanan. Apalagi jika kemalaman.
  • Di sekitar Lembah Harau belum tersedia hotel maupun resort. Hanya ada penginapan semacam homestay. Untuk makanan dan minuman, sebaiknya membawa sendiri. Warung yang ada di lokasi objek wisata hanya menyediakan minuman dan makanan sekadarnya.
  • Jangan lupa membawa kamera, sebab Lembah Harau terkenal sebagai tempat favorit untuk kegiatan fotografi yang mengekspose wild adventure, aktivitas ekstrim dan alam liar.(11)
Suara Merdeka, 1 Juni 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

No spam, please...