Koleksi Artikel Pilihan

Koleksi artikel pilihan

Minggu, 09 Maret 2014

Dinding Kayu sebagai Aksen

EDISI ini, kita masih akan mengupas material yang tetap elegan sepanjang masa, yaitu kayu beserta penerapannya pada dinding bangunan. Seperti halnya penerapan kayu pada elemen lantai seperti yang telah kita bahas pada tulisan kemarin
● Oleh Septana Bagus Pribadi.

Penerapan kayu pada elemen dinding akan memunculkan atmosfir yang hampir sama, hangat, homy, nyaman, tetapi mewah dan elegan. Tekstur dan warna kayu yang khas dapat dikatakan matching untuk dipadukan dengan tekstur dan warna apapun dari material yang lain. Baik dikombinasikan secara kontras, maupun dikomposisikan dengan irama yang sama dengan material lain yang berwarna natural.
Karena sifat dasar kayu, baik kayu alam maupun material buatan dengan bahan dasar kayu, yang tidak tahan terhadap cuaca dan kelembaban, maka penerapan sebagai eleman dinding hanya disarankan sebagai dinding interior saja. Beberapa jenis aplikasi sebagai dinding adalah :

1. Kayu sebagai bahan konstruksi dinding.
Pada sistem ini, kayu benar-benar menjadi bahan konstruksi pembentuk bidang dinding. Biasa ditemui pada bangunan dengan fungsi khusus seperti restoran dan cottage. Umumnya secara keseluruhan bangunan juga mempergunakan konstruksi kayu. Kayu yang digunakan adalah berupa papan ukuran 20x160-200mm yang dipasang pada rangka kayu.Pemasangan bisa secara vertikal, horizontal, berimpit maupun bertumpuk. Jenis yang sering dipergunakan adalah kayu dengan kelas awet yang tinggi, seperti jati, bengkirai, atau meranti.

2. Papan sebagai pelapis dinding.
Pada kondisi ini, kayu tetap ditemui dalam bentuk alami (papan utuh). Hanya saja, berbeda dengan sebagai bahan konstruksi dinding di atas, di sini, papan kayu hanyalah sebagai bahan pelapis yang ditempel pada dinding yang terbuat dari bahan yang lain. Dinding bata misalnya. Papan yang dipergunakan berukuran sama dengan papan untuk konstruksi dinding, atau bisa juga menggunakan papan berukuran berapapun yang tersedia di pasaran. Karena bidang dinding yang akan dipasang pelapis belum tentu mempunyai permukaan yang rata, maka sebelumnya dipasang dahulu kayu berukuran 5/7 atau 4/6 sebagai rangka. Barulah papan pelapis dipasang di atas rangka tersebut dengan menggunakan paku atau skrup. Dalam hal ini harus diperhatikan kualitas dinding beserta plester dan aciannya. Kualitas dinding yang buruk dan lembab akan lebih mempercepat proses kerusakan papan pelapis.Sedapat mungkin gunakan trasraam sebagai adukan pasangan bata. Trasraam adalah campuran semen dan pasir, dengan komposisi semen yang lebih banyak daripada adukan biasa. Penggunaan dengan semen yang lebih banyak tersebut akan membuat dinding lebih kedap air, sehingga lebih kering.

3. Pelapis dinding dari hasil kayu olahan.
Apabila kayu alam dalam bentuk papan utuh sulit ditemukan ataupun mahal mahalnya, alternatif lain adalah menggunakan hasil kayu olahan yang berupa multipleks yang berbentuk lembaran. Ukuran lembaran hasil olahan pabrik ini biasanya standar, yaitu 122cm x 144cm, dengan ketebalan yang paling sering digunakan adalah 6mm, 9mm, atau 12mm. Selain multipleks, bahan lain yang sering digunakan adalah panel fabrikasi yang terbuat dari serbuk kayu yang dipress dengan suhu tinggi. Panel tersebut biasa disebut panel MDF (medium density fiber) atau HDF (high density fiber). Pemasangan rangka kayu 5/7 atau 4/7 pada bidang dinding juga diperlukan untuk mendapatkan hasil akhir yang lebih presisi dan rata. Panel MDF dan HDH mempunyai lapisan permukaan yang sangat halus dan langsung siap untuk difinishing dibandingkan dengan multipleks yang memerlukan proses pengamplasan (sanding) dan penutupan pori-pori (filler) sebelum pengaplikasian cat atau finishing. Bila menghendaki tampilan akhir yang sama dengan material kayu asli, dapat ditambahkan lapisan teakwood setebal 3mm. Teakwood memiliki motif yang sama persis seperti kayu asli karena dibuat dengan cara mengupas kayu gelondongan menjadi lapisan-lapisan tipis, kemudian dipress.

Beberapa proses finishing kayu antara lain :
  • Politur. Politur adalah bahan finishing kayu dengan pelarut spiritus. Karakter politur adalah tidak menutupi pori-pori kayu sehingga material kayu masih dapat ’bernafas’
  • Mellamic. Mellamic menggunakan pelarut minyak. Sebelum aplikasi mellamic, dilakukan dulu penutupan pori-pori dan aplikasi cat dasar bening, sehingga pori-pori kayu tertutup sepenuhnya. Baik politur atau melamic adalah proses finishing yang sama-sama mempertahankan motif kayu untuk tetap terlihat.
  • PU (polyurethane). PU adalah finishing kayu transparan seperti mellamic, tetapi menggunakan bahan dasar resin. Kelebihan PU adalah lebih keras dan lebih tahan benturan.
  • Duco. Duco adalah proses pengecatan kayu yang mirip dengan aplikasi cat pada body mobil. seluruh permukaan kayu didempul terlebih dahulu, di amplas hingga halus, barulah diaplikasikan cat sebagai lapisan akhir. Duco dipilih untuk finishing kayu dengan warna-warna solid. Motif kayu sama sekali tidak kelihatan lagi.
  • Fancy, water based finish, dan wood stain. Jenis-jenis finishing ini dipilih apabila kita masih ingin menonjolkan motif kayu, tetapi dengan warna yang bukan merupakan warna natural kayu, misalkan hijau, biru, merah, dll.
  • Finishing sintetis motif kayu. Jenis finishing ini dikenal dengan nama HPL(high pressure laminated). Berbahan dasar resin, penolin, dan kraft paper. Bahan ini mempunyai puluhan jenis motif di pasaran, baik berbagai motif kayu, motif menyerupai logam, hingga berbagai warna solid. Dewasa ini HPL sangat banyak diaplikasikan sebagai bahan penutup furniture dan pelapis dinding interior karena mempunyai berbagai kelebihan. Antara lain tahan benturan, tahan goresan, keragaman motif yang tersedia, ekonomis, dan kecepatan dan kemudahan dalam pemasangan. HPL tersedia dalam bentuk gulungan dan tinggal ditempel dengan menggunakan lem pada material dasar, baik itu multipleks, ataupun MDF/HDH. Namun kualitas dan tampilan HPL sangat tergantung kepada kerapian dan keahlian pemasangnya.(11)

Septana Bagus Pribadi, ST, MT
Staff Pengajar Jurusan Arsitektur FT Undip

Suara Merdeka, 22 Desember 2013
(Sumber gambar : tiperumahminimalis.blogspot.com)

1 komentar:

No spam, please...