Koleksi Artikel Pilihan

Koleksi artikel pilihan

Kamis, 07 Mei 2015

Wisata, Menikmati Cuaca Cerah di Pulau Perak

Oleh : Katerina

Langit di atas Jakarta pagi itu kelabu. Namun tidak sulit untuk melesat dengan lancar, membelah jalanan ibu kota, sebab hari masih terlalu dini untuk dibelit kemacetan. Hanya ada satu alasan kenapa berkejaran dengan waktu, tak lain agar tak ketinggalan kapal. Kapal-kapal di Muara Angke biasanya berlayar tepat waktu. Telat sedikit, bisa ditinggal. Pelabuhan Muara Angke adalah gerbang menuju pulau-pulau di Kepulauan Seribu. Tempat ini sering dijadikan meeting point para wisatawan yang akan menyeberang bersama kawan seperjalanan. Meski harus melewati pasar ikan dengan aroma amis yang menguar di udara, jalan becek, dan got yang tidak pernah kering oleh air berbau busuk, wisatawan tetap ramai berdatangan, salah satunya saya.

Dengan biaya Rp 45.000 / orang, saya berangkat menumpang kapal feri. Sebetulnya, untuk menyeberang ke Kepulauan Seribu juga bisa melalui Pelabuhan Marina Ancol. Namun di sana hanya tersedia kapal cepat (speedboat) yang berbiaya Rp 300.000,- /orang. Dengan kapal cepat ini, waktu untuk menyeberang sekitar 1 jam saja. Sedangkan kapal feri sekitar 2,5 jam. Namun, jika ombak sedang besar, waktu tempuh speedboat bisa menjadi 2 - 2,5 jam.
Di musim penghujan seperti saat ini, laju kapal menjadi lebih lambat. Ombak besar membuat kapal beberapa kali terhempas. Beberapa orang kena mabuk laut. Perlu waktu tiga jam berlayar untuk sampai di Pulau Harapan, pulau tempat kami transit. Selanjutnya kami menumpang perahu motor bermuatan 15-20 orang untuk menuju Pulau Bira, Pulau Putri dan Pulau Perak.

Siang itu langit benar-benar cerah. Matahari bersinar terang. Deretan pulau kecil-kecil terlihat dari perahu yang melaju kencang. Permukaan laut yang berwarna biru, sesekali berkilau diterpa cahaya matahari. Siapa sangka cuaca begitu bersahabat. Perahu kami mendekati Pulau Bira. Dari kejauhan saya dapat melihat garis pantainya yang berwarna putih. Semakin mendekat, saya pun melihat warna air lautnya yang bergradasi. Mulai dari biru tua, biru muda, hijau, hingga putih. Sebelum mencapai bibir pantai, mesin perahu dimatikan, tukang perahu pun menjatuhkan jangkar. Kami melihat air di sisi perahu. Tampak sangat jernih, memperlihatkan terumbu karang beragam rupa. Di sinilah tempat kami snorkeling.

Begitu peralatan snorkeling terpasang, kami pun berloncatan. Ada yang memakai life jacket, ada yang tidak. Saya membawa serta kamera underwater. Sesekali mengapung, sesekali berenang, sesekali menyelam. Air laut terasa begitu hangat, membuat betah berlama-lama. Apalagi di dalam air, ikan-ikan cantik terlihat berenang ke sana kemari. Dari perairan Pulau Bira, kami pindah dan melanjutkan snorkling di perairan Pulau Putri. Syukurnya jarak ke Pulau Putri tidak terlalu jauh. Ketika perahu berlabuh, kami kembali berloncatan ke laut. Berenang dan menyelam, menyaksikan keindahan terumbu karang. 

Perairan Pulau Putri masih terbilang alami. Terumbu karangnya masih berwarna-warni. Ikan-ikan yang bergaris-garis seperti zebra, dengan warna garis putih, hijau, biru, kuning, segera menyerbu begitu kami melemparkan makanan. Dengan biaya murah, ternyata saya bisa menyaksikan alam bawah laut seindah ini. Pulau Putri diapit oleh pulau-pulau kecil di Kepulauan Seribu. Luasnya kurang lebih 8 hektar. Di dalam pulau terdapat resort. Sekeliling pantai pulau di beri bebatuan yang bertujuan untuk melindungi pulau dari abrasi air laut. Meski beraktifitas di perairannya, kami tidak menjejak daratannya..

Pulau Perak
Setelah berenang dan snorkling di Pulau Puteri, kami kembali berlayar, pindah ke Pulau Perak. Saat berada di lautan, saya kembali melihat deretan pulau. Buat saya yang baru dua kali berlayar di Kepulauan Seribu, masih sangat sulit untuk mengenali pulau-pulau yang ada. Penampakannya sama, seperti gerumbul pepohonan dengan garis pantai putih, dan dermaga kayu.

Mengingat jumlah pulaunya yang banyak, sekitar 110 pulau (sumber: Wikipedia), dan membentang dari utara Jakarta hingga 120 km ke utara, maka hanya tukang perahu saja yang hapal nama dan letak-letak pulau itu. Jack, tukang perahu kami, bisa mengetahui nama pulau dari dermaganya. Ia sepertinya hapal betul dermaga masing-masing pulau. Setibanya di Pulau Perak, kami kembali berloncatan, menjejak permukaan pasir putih yang terasa sangat halus dan lembut. Di pulau tak berpenduduk ini, air lautnya sungguh cantik, hijau muda bening. Dari ujung dermaga hingga ke daratan, airnya dangkal sehingga kelihatan dasarnya. Saat siang seperti ini, berendam di sini sungguh segar.
Setiap perahu yang bersandar di Pulau Perak dikenakan biaya singgah. Sedangkan wisatawan tidak dikenakan biaya sama sekali. Menurut Jack, uang tersebut tersebut digunakan untuk biaya kebersihan pulau. Saya lihat kondisi pulau ini memang bersih, baik di daratannya maupun di perairannya. Pantainya sangat nyaman untuk bermain dan berenang.
Pulau Perak hanya ditinggali oleh dua kepala keluarga. Mereka membuka warung makanan dan minuman, satu-satunya warung yang ada di pulau. Aneka minuman kemasan tersedia di sini. Selain minuman, penjual juga menyediakan aneka gorengan. Karena satu-satunya, tak ayal warung ini diserbu pembeli.

Wisatawan lebih banyak berkerumun di sekitar pantai dekat dermaga. Ada yang berenang, menikmati jajanan, bermain ayunan tali, atau sekedar duduk di hamparan pasir menikmati pemandangan. Meski cuaca sangat panas, pohon-pohon pinus laut yang tumbuh di sekitar dermaga mampu memberi kesejukan bagi wisatawan yang sedang berteduh. Pulau seluas 3 hektar ini kerap dijadikan tempat berkemah. Ya, di sini para wisatawan memang diperbolehkan berkemah. Ada fasilitas kamar kecil untuk keperluan buang hajat. Letaknya agak ke tengah pulau, di antara rimbun pohon. Bagusnya lagi, pulau ini ternyata memiliki sumur air tawar yang begitu segar.
Mendirikan tenda, menyalakan api unggun sambil menikmati deburan ombak, barbeque seafood, atau sekedar berbagi cerita dengan sahabat, tentu menjadi pengalaman berlibur yang berkesan. Apalagi spot camping langsung menghadap ke pantai mungil berpasir putih.
Terletak di sebelah utara Ibukota Jakarta, Kepulauan Seribu menyediakan banyak alternatif liburan yang bisa dinikmati. Dari sekedar duduk santai di tepi pantai berpasir putih sambil menikmati es kelapa muda, bersnorkeling atau bahkan diving diantara gugusan coral aneka warna, menikmati kuliner seafood, camping di pulau tidak berpenduduk, semua tersedia di Kepulauan Seribu.


Meski bernama Kepulauan Seribu namun sesungguhnya jumlah pulau yang ada tidak mencapai 1000 pulau. Dari ratusan pulau yang ada, hanya beberapa pulau saja yang berpenghuni, sisanya merupakan pulau-pulau kosong yang memiliki banyak peruntukan lainnya, misalnya; cagar alam, pusat penghijauan, rekreasi, pengatur lalu lintas laut (mercusuar), hingga pusat penelitian.

Suara Merdeka, 15 Maret 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

No spam, please...